Presiden Tunjungsekar Minta Proyek Sudetan
Jawa Pos, Senin 18 September 2006
MALANG - Rembug Kampung (rempung) perdana di RW 7 Tunjungsekar, Lowokwaru, kemarin malam berjalan cukup meriah. Kendati berbarengan dengan tayangan live final Copa antara Arema versus Persipura, warga tetap antusias untuk berbagi pendapat dan mencari solusi permasalahan di kampung asri tersebut. Sekitar tiga perempat dari 130 KK larut dalam rempung yang didukung penuh Sampoerna Hijau, Radar Malang Radio Citra Pro-3 dan Pemkot Malang.
Ketua RW 7 Tunjungsekar Soepi’i Sumarsojo didapuk menjadi "Presiden" Tunjungsekar Hijau. Selanjutnya ada lima menteri yang ditunjuk untuk mendampingi sang "presiden". Mereka adalah Sulkan Yasin (menteri keamanan), FX Bambang Herry (menteri lingkungan), Ratna (menteri keuangan) dan Surahmad (menteri pembangunan).
"Setelah melihat paparan kampung kita dari layar lebar. Bapak Presiden dipersilakan untuk membuka musyawarah dan menyajikan bahasan kali ini. Singkat saja lho Pak," ujar Murdiman, moderator acara rempung yang sebelumnya sempat menyanyikan lagu Lir ilir.
Dua masalah diangkat dalam musyawarah gaya baru itu. Pertama, masih berkaitan dengan Malang Ijo Royo-royo, yakni bagaimana memacu kembali peran aktif warga dalam peningkatan penghijauan. Masalah kedua, apa alternatif pemecahan banjir tahunan di Jl Raya Ikan Mujair yang dirasakan warga sangat mengganggu. Banjir tersebut juga membawa sampah yang menimbulkan kekumuhan kampung Bulukerto itu.
"Kami punya solusi membuat megaproyek sudetan untuk mengatasi banjir. Namun, semua itu membutuhkan banyak partisipasi dari warga. Untuk peningkatan penghijauan silakan diusulkan bagaimana caranya," jelas Soepi’i, sang "presiden" seraya meminta Surahmad (menteri pembangunan) menjelaskan detailnya.
Dengan memakai gaya pejabat sungguhan, Surahmad menegaskan perlu Amdal untuk pelaksanaan megaproyek tersebut. Yang dimaksud AMDAL bukan Analisa Mengenai Dampak Lingkungan. Melainkan Amplop Dalam (dibalik: dalam amplop). Atau kemampuan keuangan warga setempat dalam patungan dana.
"Kita kan diapit dua sungai. Kalau ada sudetan, langsung beres. Air tidak melalui jalan utama "kota" kita," ujar pria berkacamata itu.
Hartono, salah seorang warga RW 4 yang letaknya sebelah barat RW 7 ikut menanggapi permasalahan. Dia menolak kalau selalu dituding ekspor sampah ke RW 7 melalui saluran drainase tersier. "Kami sudah melarang warga untuk buang sampah ke sungai. Kalau saya lihat, warga Tasikmadu ikut andil. Makanya usul Pak Camat agar mengingatkan ketertiban "negara" tetangga," tandas Hartono.
"Ya sebaiknya Pak Presiden tidak menanggapi. Itu kan hanya usul negara tetangga. Biar Pak Camat saja yang menanggapi," sambung moderator yang langsung disambut gelak warga.
Kebetulan, dalam acara kemarin hadir Camat Lowokwaru Subkhan, Kadis Pertamanan Mardjono, Lurah Tunjungsekar Rino, Wakil Ketua DPRD Subur Triono, dan anggota dewan Ahmad Azhar Moeslim. Subkhan dalam tanggapannya berjanji untuk mengingatkan agar warga Tasikmadu untuk tidak membuang sampah di sungai karena akan mengumpul di bagian hilir.
Pertanyaan cerdas dilontarkan Ny Masduki soal perawatan pohon. Ibu berjilbab itu bertanya bagaimana metode perawatan tanaman dan pohon di tempat umum. Sebab biasanya warga saling tunjuk. "Bagaimana kalau sistem piket saja Pak. Agar Pak "Presiden" tidak turun tangan sendiri memotong rumput. Bahaya kalau yang dipotong rumput tetangga," kata Ny Masduki memancing tawa warga. (yos)
0 Comments:
Post a Comment
<< Home