Oleh: Imam Kabul
"Orang optimis melihat kesempatan dalam setiap bencana, orang pesimis melihat bencana dalam setiap kesempatan." (Herbert D. Prchnau).
Pernyataan itu mengajarkan dua hal: optimisme dan pesimisme. Kedua kata ini enak diucapkan, dilantunkan jadi penghias bibir, atau dibuat sebagai materi ceramah untuk mengingatkan publik.
Orang yang optimis tidak akan memandang atau menyikapi setiap bencana yang terjadi, menimpa diri, masyarakat, dan bangsanya sebagai akhir dari segala-galanya. Bencana tidak dianggap sebagai "kiamat" yang mengakhiri kisah manisnya di dunia, melainkan diperlakukan sebagai kesempatan melakukan yang terbaik dalam hidup ini. Berbagai peristiwa menyayat hati, tetap dianggap sebagai penghias duniawi yang bisa menimpa siapapun,
Kehadiran ujian, tantangan, atau bencana dalam hidup ini merupakan sunnatullah yang berapapun kadarnya, setiap manusia pasti mengalaminya. Tidak ada manusia yang tidak pernah punya hikayat soal suka dan duka. Kedua hal yang berbenturan ini datang silih berganti mengisi dan mewarnai kehidupan manusia.
Manusia adalah pelaku sejarah, selaku khalifah fil arld, yang dalam tiap derap perjalanan hidup yang dijalaninya tidak lepas dari cerita. Hubungannya dengan orang lain, dengan kolega, dengan unsur keluarga, dengan sesama elit kekuasaan, atau hubungannya dengan bawahan, hubungannya dengan atasan, adalah interaksi manusiawi yang tidak terhindarkan, yang mesti mengundang risiko, baik yang menghadirkan suka maupun duka.
Meski keluarga sebagai unit sosial terkecil adalah tempat yang idealnya dapat memberikan penyejuk jiwa, melembutkan hati, dan menciptakan hubungan yang harmonis antar unsur-unsurnya, tetapi apa yang terjadi dalam keluarga belum tentu seperti yang diidealkan. Terkadang mencuat suka, duka, atau bencana. Ada yang dukanya ditimbulkan oleh konflik dan kekerasan antar anggota keluarga, sementara ada yang dukanya karena diuji oleh meninggalnya salah seorang anggota keluarga.
Dalam kehidupan yang lebih luas, suka dan duka pun bisa hadir merambah dan meninggalkan kepedihan di tengah masyarakat. Masyarakat dibuat shock, terhenyak, dan terkaget-kaget dengan kehadiran bencana yang tanpa kalkulasi sebelumnya. Bencana bisa menjadi "tamu tak diundang", yang benar-benar membuat masyarakat terjerumus dalam ketidakberdayaan.
Kalau fenomena itu sudah menjadi hikayat yang mesti hadir silih berganti, seharusnya kita bisa menyikapinya dengan wajar dan tetap dalam koridor optimisme. Setiap kewajaran akan menghasilkan kebermaknaan dan kenikmatan dalam hidup.
Duka yang mesti akan menguji atau menjadi bagian dari hikayat, tentulah dapat dibaca sebagai bagian dari alur cerita kehidupan yang di dalamnya mengandung pesan perbaikan diri dan keluarga, pembaharuan, dan pencerahan kehidupan antar kelompok masyarakat.
Dalam duka atau hikayat kehidupan mestilah ada kronologis yang melatar-belakanginya yang bisa dijadikan pijakan melakukan evaluasi ucap, sikap, dan perilaku. Cerita menestapakan tidak begitu saja terjadi, tetapi ada akar yang membuatnya bisa terjadi dan bahkan berulang-ulang terjadi. Di antara cerita ini, terbuka pelajaran yang potensial bisa digunakan menjaga kestabilan diri dalam berpikir dan bertindak, jauh dari gagap, ketergesa-gesaan, dan irasionalitas.
Di situlah, optimisme tetap menyala dan berkobar menghiasi diri kita. Kita menjadi tidak penakut dengan bencana, di samping tidak arogan atau menyombongkan diri ketika kita merasa bisa keluar dari bencana, atau akal kita mampu menjawab masalah yang sedang menghimpit. Kita tidak merasa terpuruk dan hancur dengan ujian dariNya, tetapi kita tetap berpikir jernih dan bersikap arif dalam menerjemahkan akar masalahnya, siapa tahu masalah yang sesungguhnya adalah sikap dan perilaku kita yang berkedudukan menjadi musibah itu sendiri.
Problem duniawi yang hadir menemani dan mengakrabi kita, adalah hikayat logis yang tidak harus disambut dengan pesimisme. Sikap optimis dalam menyikapi dan memaknai problem berat, akan menjadikan yang terasa berat menjadi ringan. Sebaliknya, sikap pesimis akan menjadikan problem yang sebenarnya ringan terasa menjadi berat dan memberatkan.
Sikap pesimis tidak boleh dipelihara, apalagi sampai dibiarkan tumbuh subur, karena kalau sikap demikian tidak diberangus, kita akhirnya terus-menerus menjadi manusia yang tidak berdaya, sosok yang tidak cerdas membaca sinyal-sinyal perubahan, dan sosok yang buta nurani terhadap pemberian Tuhan. Kita akhirnya merasa terus menerus "miskin" di sebuah negeri yang oleh Tuhan dikaruniai sebagai "negeri kolam susu". (*)
0 Comments:
Post a Comment
<< Home